National Identity without Intellectual Bases: Israel’s Practical Zionism in Developing a State for the Jews

Syahrul Hidayat

Abstract


Israel sebagai sebuah negara telah ada selama hampir 70 tahun. Meskipun kehadirannya telah berlangsung selama beberapa dekade, pendirian dan perjuangannya untuk bertahan dan mendapatkan pengakuan telah terus-menerus ditantang termasuk dari mereka yang seharusnya menjadi tulang punggung identitas nasional Israel yaitu kaum intelektual. Tulisan ini berpendapat bahwa kritik dari beberapa cendekiawan Yahudi merupakan masalah mendasar dari upaya untuk membangun identitas nasional. Jika nasionalisme, terutama dalam konteks Eropa yang menjadi tempat kelahirannya, biasanya didukung oleh intelektual sebagai sumber imajinasi untuk pengikat sebuah kelompok, kasus Israel menunjukkan arah yang berbeda, setidaknya bermasalah. Dua intelektual Yahudi terkemuka, Martin Buber dan Hannah Arendt, yang disajikan di didalam tulisan adalah contoh dari tantangan terhadap dominasi Yahudi di Israel nasionalisme. Meskipun mereka tidak ingin melepas identitas mereka sebagai orang Yahudi dan setuju dengan lembaga politik otoritatif untuk melindungi orang-orang Yahudi keduanya menentang gagasan dominasi Yahudi dan pemusnahan Palestina.
Mengingat pandangan mereka yang menolak pragmatism politik, kurangnya perhatian dan dukungan dari para pemimpin politik Zionis telah membuat ide-ide intelektual mereka relatif terisolasi dari massa.

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.7454/jp.v1i1.14

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c)